PERANG SAUDARA
MAHABARATA
maulindasulisnawati.blogspot.com
prabu santanu dalah seorang raja mahsyur dari garis keturunan Sang Kuru, berasal dari Hastinapura. Ia menikah dengan Dewi Gangga yang dikutuk agar turun ke dunia, namun Dewi Gangga meninggalkannya karena Sang Prabu melanggar janji pernikahan. Hubungan Sang Prabu dengan Dewi Gangga sempat membuahkan anak yang diberi nama Dewabrata atau Bisma. Setelah ditinggal Dewi Gangga, akhirnya Prabu Santanu menjadi duda.
prabu santanu dalah seorang raja mahsyur dari garis keturunan Sang Kuru, berasal dari Hastinapura. Ia menikah dengan Dewi Gangga yang dikutuk agar turun ke dunia, namun Dewi Gangga meninggalkannya karena Sang Prabu melanggar janji pernikahan. Hubungan Sang Prabu dengan Dewi Gangga sempat membuahkan anak yang diberi nama Dewabrata atau Bisma. Setelah ditinggal Dewi Gangga, akhirnya Prabu Santanu menjadi duda.
Beberapa tahun kemudian, Prabu
Santanu melanjutkan kehidupan berumah tangga dengan menikahi Dewi Satyawati,
puteri nelayan. Dari hubungannya, Sang Prabu berputera Sang Citrānggada
dan Wicitrawirya. Citrānggada wafat di usia muda dalam suatu pertempuran,
kemudian ia digantikan oleh adiknya yaitu Wicitrawirya. Wicitrawirya juga wafat
di usia muda dan belum sempat memiliki keturunan. Atas bantuan Resi Byasa, kedua istri Wicitrawirya, yaitu Ambika dan Ambalika,
melahirkan masing-masing seorang putera, nama mereka Pandu (dari Ambalika) dan Dretarastra
(dari Ambika).
Dretarastra terlahir buta, maka tahta Hastinapura
diserahkan kepada Pandu, adiknya. Pandu menikahi Kunti kemudian Pandu menikah untuk yang
kedua kalinya dengan Madrim, namun akibat kesalahan Pandu pada saat memanah seekor
kijang yang sedang kasmaran, maka kijang tersebut mengeluarkan (Supata=Kutukan)
bahwa Pandu tidak akan merasakan lagi hubungan suami istri, dan bila
dilakukannya, maka Pandu akan mengalami ajal. Kijang tersebut kemudian mati
dengan berubah menjadi wujud aslinya yaitu seorang pendeta.
Kemudian karena mengalami kejadian
buruk seperti itu, Pandu lalu mengajak kedua istrinya untuk bermohon kepada
Hyang Maha Kuasa agar dapat diberikan anak. Lalu Batara guru mengirimkan Batara
Dharma untuk membuahi Dewi Kunti sehingga lahir anak yang pertama yaitu
Yudistira Kemudian Batara Guru mengutus Batara Indra untuk membuahi Dewi Kunti
shingga lahirlah Harjuna, lalu Batara Bayu dikirim juga untuk membuahi Dewi
Kunti sehingga lahirlah Bima, dan yang terakhir, Batara Aswin dikirimkan untuk
membuahi Dewi Madrim, dan lahirlah Nakula dan Sadewa.
Kelima putera Pandu tersebut dikenal
sebagai Pandawa.
Dretarastra yang buta menikahi Gandari,
dan memiliki seratus orang putera dan seorang puteri yang dikenal dengan
istilah Korawa.
Pandu dan Dretarastra memiliki saudara bungsu bernama Widura. Widura memiliki seorang anak
bernama Sanjaya, yang memiliki mata batin agar mampu melihat masa lalu,
masa sekarang, dan masa depan.
Pandawa
dan Korawa
Pandawa dan Korawa merupakan dua kelompok dengan sifat yang berbeda namun
berasal dari leluhur yang sama, yakni Kuru
dan Bharata. Korawa (khususnya Duryodana)
bersifat licik dan selalu iri hati dengan kelebihan Pandawa, sedangkan Pandawa
bersifat tenang dan selalu bersabar ketika ditindas oleh sepupu mereka. Ayah
para Korawa, yaitu Dretarastra, sangat menyayangi putera-puteranya. Hal itu membuat ia
sering dihasut oleh iparnya yaitu Sangkuni,
beserta putera kesayangannya yaitu Duryodana,
agar mau mengizinkannya melakukan rencana jahat menyingkirkan para Pandawa.
Pada suatu ketika, Duryodana
mengundang Kunti
dan para Pandawa
untuk liburan. Di sana mereka menginap di sebuah rumah yang sudah disediakan
oleh Duryodana. Pada malam hari, rumah itu dibakar. Namun para Pandawa
diselamatkan oleh Bima sehingga mereka tidak terbakar hidup-hidup dalam rumah
tersebut. Usai menyelamatkan diri, Pandawa dan Kunti masuk hutan. Di hutan
tersebut Bima bertemu dengan rakshasa
Hidimba
dan membunuhnya, lalu menikahi adiknya, yaitu rakshasi Hidimbi.
Dari pernikahan tersebut, lahirlah Gatotkaca.
Setelah melewati hutan rimba, Pandawa
melewati Kerajaan Panchala. Di sana tersiar kabar bahwa Raja Drupada
menyelenggarakan sayembara memperebutkan Dewi Dropadi.
Karna
mengikuti sayembara tersebut, tetapi ditolak oleh Dropadi. Pandawa pun turut
serta menghadiri sayembara itu, namun mereka berpakaian seperti kaum brahmana.
Pandawa ikut sayembara untuk
memenangkan lima macam sayembara, Yudistira untuk memenangkan sayembara
filsafat dan tatanegara, Arjuna untuk memenangkan sayembara senjata Panah, Bima memenangkan sayembara Gada dan Nakula - Sadewa untuk memenangkan sayembara senjata
Pedang. Pandawa berhasil melakukannya dengan baik untuk memenangkan sayembara.
Dropadi harus menerima Pandawa
sebagai suami-suaminya karena sesuai janjinya siapa yang dapat memenangkan
sayembara yang dibuatnya itu akan jadi suaminya walau menyimpang dari
keinginannya yaitu sebenarnya yang diinginkan hanya seorang Satriya.
Setelah itu perkelahian terjadi
karena para hadirin menggerutu sebab kaum brahmana tidak selayaknya mengikuti
sayembara. Pandawa berkelahi kemudian meloloskan diri. sesampainya di rumah,
mereka berkata kepada ibunya bahwa mereka datang membawa hasil meminta-minta.
Ibu mereka pun menyuruh agar hasil tersebut dibagi rata untuk seluruh
saudaranya. Namun, betapa terkejutnya ia saat melihat bahwa anak-anaknya tidak
hanya membawa hasil meminta-minta, namun juga seorang wanita. Tak pelak lagi, Dropadi
menikahi kelima Pandawa.
Permainan
dadu
Agar tidak terjadi pertempuran
sengit, Kerajaan Kuru dibagi dua untuk dibagi kepada Pandawa
dan Korawa.
Korawa memerintah Kerajaan Kuru induk (pusat) dengan ibukota Hastinapura,
sementara Pandawa memerintah Kerajaan Kurujanggala dengan ibukota Indraprastha.
Baik Hastinapura maupun Indraprastha memiliki istana megah, dan di sanalah Duryodana
tercebur ke dalam kolam yang ia kira sebagai lantai, sehingga dirinya menjadi
bahan ejekan bagi Dropadi. Hal tersebut membuatnya bertambah marah kepada para
Pandawa.
Untuk merebut kekayaan dan kerajaan Yudistira,
Duryodana
mengundang Yudistira untuk main dadu ini atas ide Sangkuni,
hal ini dilakukan sebenarnya untuk menipu Pandawa mengundang Yudistira untuk
main dadu dengan taruhan. Yudistira yang gemar main dadu tidak menolak undangan
tersebut dan bersedia datang ke Hastinapura.
Pada saat permainan dadu, Duryodana
diwakili oleh Sangkuni sebagai bandar dadu yang memiliki kesaktian untuk berbuat
curang. Permulaan permainan taruhan senjata perang, taruhan pemainan terus
meningkat menjadi taruhan harta kerajaan, selanjutnya prajurit dipertaruhkan,
dan sampai pada puncak permainan Kerajaan menjadi taruhan, Pandawa kalah
habislah semua harta dan kerajaan Pandawa termasuk saudara juga dipertaruhkan
dan yang terakhir istrinya Dropadi dijadikan taruhan.
Dalam peristiwa tersebut, karena
Dropadi sudah menjadi milik Duryodana, pakaian Dropadi
ditarik oleh Dursasana karena sudah menjadi harta Duryodana sejak Yudistira kalah
main dadu, namun usaha tersebut tidak berhasil membuka pakaian Dropadi,
karena setiap pakaian dibuka dibawah pakaian ada pakaian lagi begitu terus tak
habisnya berkat pertolongan gaib dari Sri Kresna.
Karena istrinya dihina, Bima bersumpah akan membunuh Dursasana dan meminum darahnya
kelak. Setelah mengucapkan sumpah tersebut, Dretarastra
merasa bahwa malapetaka akan menimpa keturunannya, maka ia mengembalikan segala
harta Yudistira yang dijadikan taruhan.
Duryodana yang merasa kecewa karena Dretarastra
telah mengembalikan semua harta yang sebenarnya akan menjadi miliknya,
menyelenggarakan permainan dadu untuk yang kedua kalinya. Kali ini, siapa yang
kalah harus mengasingkan diri ke hutan selama 12 tahun, setelah itu hidup dalam
masa penyamaran selama setahun, dan setelah itu berhak kembali lagi ke
kerajaannya. Untuk yang kedua kalinya, Yudistira
mengikuti permainan tersebut dan sekali lagi ia kalah. Karena kekalahan
tersebut, Pandawa
terpaksa meninggalkan kerajaan mereka selama 12 tahun dan hidup dalam masa
penyamaran selama setahun.
Setelah masa pengasingan habis dan
sesuai dengan perjanjian yang sah, Pandawa
berhak untuk mengambil alih kembali kerajaan yang dipimpin Duryodana.
Namun Duryodana
bersifat jahat. Ia tidak mau menyerahkan kerajaan kepada Pandawa, walau seluas
ujung jarum pun. Hal itu membuat kesabaran Pandawa
habis. Misi damai dilakukan oleh Sri Kresna, namun berkali-kali gagal.
Akhirnya, pertempuran tidak dapat dielakkan lagi.
Pertempuran
di Kurukshetra
Pandawa berusaha mencari sekutu dan
ia mendapat bantuan pasukan dari Kerajaan Kekaya,
Kerajaan Matsya, Kerajaan Pandya,
Kerajaan Chola, Kerajaan Kerala,
Kerajaan Magadha, Wangsa Yadawa, Kerajaan Dwaraka, dan masih banyak lagi. Selain itu para ksatria besar di Bharatawarsha
seperti misalnya Drupada, Satyaki, Drestadyumna, Srikandi, Wirata, dan lain-lain ikut memihak Pandawa. Sementara itu Duryodana
meminta Bisma
untuk memimpin pasukan Korawa sekaligus mengangkatnya sebagai panglima tertinggi pasukan
Korawa. Korawa dibantu oleh Resi Drona dan putranya Aswatama,
kakak ipar para Korawa yaitu Jayadrata,
serta guru Krepa,
Kretawarma,
Salya,
Sudaksina,
Burisrawas,
Bahlika,
Sangkuni,
Karna,
dan masih banyak lagi.
Pertempuran berlangsung selama 18
hari penuh. Dalam pertempuran itu, banyak ksatria yang gugur, seperti misalnya Abimanyu,
Drona,
Karna,
Bisma,
Gatotkaca,
Irawan,
Raja Wirata
dan puteranya, Bhagadatta, Susharma, Sangkuni,
dan masih banyak lagi. Selama 18 hari tersebut dipenuhi oleh pertumpahan darah
dan pembantaian yang mengenaskan. Pada akhir hari kedelapan belas, hanya
sepuluh ksatria yang bertahan hidup dari pertempuran, mereka adalah: Lima Pandawa,
Yuyutsu,
Satyaki,
Aswatama,
Krepa
dan Kretawarma.
Penerus
Wangsa Kuru
Setelah perang berakhir, Yudistira dinobatkan sebagai Raja Hastinapura. Setelah memerintah selama beberapa lama, ia
menyerahkan tahta kepada cucu Arjuna, yaitu Parikesit.

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda